Monday, June 13, 2016

[Review] The Conjuring 2

Judul: The Conjuring 2
Sutradara: James Wan
Produser: Peter Safran, Rob Cowan, James Wan
Penulis: James Wan, Chad Hayes, Carey Hayes
Pemain: Vera Farmiga, Patrick Wilson, Frances O'Connor, Madison Wolfe, Simon McBurney, Franka Potente, Lauren Esposito
Distributor: Warner Bros. Pictures


Intermezzo:
Dulu, sekitar tahun 2007 jauh sebelum mengenal James Wan. Saya sempat iseng menyewa vcd berjudul Dead Sentence di rental vcd original di daerah Tembalang Semarang. Film dengan genre action-crime-thriller (plus revenge) yang dibintangi Kevin Bacon ini tidak disangka menarik juga! Hingga akhirnya nama sutradara James Wan sudah tidak bisa dipandang sebelah mata lagi seperti sekarang. Terbukti beberapa karyanya yang berhasil menjadi fenomenal. Berawal dari SAW (yang saya sendiri ga tau lagi sudah jadi berapa sequel), lalu Insidious, kemudian Conjuring. Jangan lupakan juga Dead Silence. Tiap karyanya seakan menjadi pemuas dahaga para pecinta horor. Bukan hanya horor, James Wan juga berhasil saat dipercayai memegang franchise ke-7 Fast Furious tahun lalu. Kalau begini bukan ahli horor saja, tapi julukan ahli adrenalin rasanya patut disematkan ke sutradara satu ini. Dengar-dengar, bangku sutradara Aquaman dari DC Comic Universe juga akan diduduki olehnya (Yes!).
Mendengar Conjuring akan dibuatkan sequel-nya dan mengetahui bangku sutradara kembali diduduki oleh orang yang sama sudah barang tentu menjadi bulan-bulan para pecinta horor.


Sinopsis:
Sebuah keluarga di Enfield Inggris mengalami gangguan dari makhluk halus di kediamannya. Membuat pasangan cenayang ternama Ed dan Lorraine Warren diminta kembali menyelidiki dan kemudian terpanggil untuk menyelesaikan kasus tersebut disaat Lorraine ingin  berhenti. Apakah Ed dan Lorraine berhasil menyelesaikan kasus yang katanya kasus terberat mereka, di tengah masyarakat yang skeptis akan adanya dunia gaib? Apa yang sebenarnya "dilihat" Lorraine sehingga ia berubah drastis, suka mengurung diri dikamar, dan ingin berhenti?


Review:
Tema rumah berhantu dan kerasukan sudah banyak dipakai oleh film-film horor Hollywood. Bisa bermasalah jika naskahnya lemah dan hanya mengandalkan jump scared "basian" saja. Ditambah penampakan hantu yang terlewat narsis dan akhir cerita yang konyol (dipaksakan). Sehingga tujuan ke bioskop ingin ditakut-takuti jadi sirna lebih-lebih, ngantuk.


Pola menakut-nakuti di The Conjuring 2 sebenarnya masih sama, masih "James Wan" banget. Yang mengikuti karya horornya seperti Dead Silence, Insidious 1-2, dan Conjuring pasti sudah hapal gimana James Wan meneror rasa takut kita. Penampakan yang tidak terduga, ruang gelap yang bikin kita berimajinasi sendiri, suara-suara yang bikin gak nyaman, makhluk seram yang khas, dentingan mainan anak-anak, hingga lagu-lagu klasik yang menambah creepy suasana. Meski sudah hapal, elemen-elemen menakut-nakuti tersebut ternyata masih efektif membuat penonton resah. Mulai dari level menahan nafas, mencengkram pegangan kuat-kuat, sampai loncat dari bangku bioskop.

Jump scare-nya brengsek

Selain memiliki kuantitas menakut-nakuti yang lebih banyak, di Conjuring 2 ini juga lebih menguatkan fokus dramanya. Antara keluarga Hodgson sang client, dan juga hubungan antara Ed-Lorraine. Jadi kita lebih bisa peduli terhadap tiap karakter di film. Serta masih bisa-bisanya menyelipkan unsur komedi. Rasanya dua unsur ini adalah porsi kita untuk rehat sejenak mengambil napas. Selebihnya... Siap-siap saja.

Kalau masih ingat, di Conjuring pertama Ed pernah bilang kalau ada satu moment yang membuat istrinya Lorraine berubah. Menjadi suka melamun dan mengurung diri beberapa hari di kamar. Sesuatu yang membuat saya dongkol karena tidak langsung dijelaskan di Conjuring 1 . Akhirnya, di Conjuring 2 ini akan dijelaskan kenapa.

Mengingat film ini based on true story, kaget mengetahui fenomena poltergeist (benda-benda bergerak) yang biasanya kita temui di film atau reality show itu "malu-malu", disini bener-bener frontal. Seakan menantang untuk menunjukan eksistensinya kepada orang-orang yang skeptis terhadap perklenikan.

Tadinya ada yang sedikit membuat saya terganggu di Conjuring 2 karena adanya penggunaan CGI di salah satu karakter penampakan. Saya jadi merasa kurang "ditakuti" karena tau itu CGI. Tapi ternyata James Wan mengklarifikasi lewat twitter-nya kalo itu bukan CGI/stopmotion, tapi diperankan oleh orang asli bernama Javier Botet. Gokil!

Secara keseluruhan The Conjuring 2 tergolong berhasil sebagai film horor yang benar-benar solid. Benar-benar menjamu kehausan pecinta horor dengan sungguh-sungguh.

Kampret!

(Note: jangan buru-buru beranjak dari kursi bioskop. Karena ada rekaman wawancara asli saat Janet kerasukan dibarengi foto-foto dokumentasinya berbarengan dengan credit title)

Wednesday, May 25, 2016

[REVIEW] X-Men: Apocalypse

Judul: X-Men: Apocalypse
Sutradara: Brian Singer
Produser: Simon Kinberg, Lauren Shuler Doner, Bryan Singer
Penulis: Simon Kinberg, Bryan Singer, Michael Dougherty, Dan Harris
Pemain: James McAvoy, Michael Fassender, Jennifer Lawrence, Oscar Issac, Nicholas Hoult, Sophie Turner, Rose Byrne, Evan Peters, Tye Sheridan, Kodi Smit Mc-Phee, Olivia Munn, Ben Hardy, Alexandra Shipp
Distributor: 20th Century Fox


Sinopsis:
Setelah insiden atas Presiden Amerika yang melibatkan Magneto dan Raven di satu dekede sebelumnya, membuat Magneto menjadi mutan-buronan yang paling di cari. Membuatnya mengasingkan diri mencoba kehidupan baru yang lebih damai.
Sementara mutan pertama dan terkuat di muka bumi, En Sabah Nur, bangkit dari tidur lanjangnya dan berniat "membersihkan" bumi agar menjadi seperti sedia kala. Mengetahui hal ini dan dampaknya yang berarti "kiamat" membuat Prof Charles Xavier (James McAvoy) berserta jejeran mutan muda harus bahu membahu melawan mutan terkuat beserta para The Four Horseman-nya yang baru.

Review:
Seperti haram hukumnya untuk menilai film sebelum menyaksikannya langsung. Mau respon positif atau negatif yang keburu masuk telinga, tetap saja tidak boleh buru-buru ngejudge.
Begitu pula dengan X-Men: Apocalypse ini. Meski lebih dulu tayang di Indonesia, X-Men: Apocalypse sudah terlebih dulu mendapat kritikan miring dengan "rapot" jeblok di situs kenamaan pemberi rate film berlambangkan tomat itu. Saya sendiri sebenarnya sudah bisa mengira-ngira begitu lihat trailer-nya yang menunjukan hingar-bingar special efex komputer.
Tapi, saya masih mempertahankan ekspektasi saya terhadap film ini, tidak mau percaya begitu saja karena saya setia mengikuti franchise X-Men.
Terlebih ada sosok Olivia Munn yang memainkan mutan baru, Psylocke ehehee..

Dibuka dengan meyakinkan, suasana penduduk mesir yang sedang melakukan ritual terhadap penguasa terkuat sekaligus mutan pertama di bumi, bernama En Sabah Nur (Oscar Isaac). Pemandangan epic ini berhasil meyakinkan saya kalo ini bakal wah. Hingga akhirnya konstan dicekoki oleh visual efek-visual efek yang ruamenya bukan main. Beberapa malah terlihat masih kasar. 
Seperti terus-terusan diberi makanan enak. Pertama akan terasa enak. Asik. Tapi kalo udah kenyang dan dijejelin terus, apa yang bakal dirasain? 

Enek.

Tidak terbantu oleh sisi cerita yang juga lempeng-lempeng saja (memang alur waktu di Apocalypse lurus-lurus saja, tidak seperti Days of Future Past yang maju mundur). Konflik apa yang bisa diharapkan? Justru kisah dari Erik "Magneto" Lehnserr (Michael Fassbender) yang lebih bisa mencuri perhatian. Dibanding latar belakang mutan-mutan lainnya.
Keteteran karena begitu banyaknya superhero mutan? Bisa jadi.
Beberapa mutan juga tidak dimaksimalkan kehadiran dan kekuatannya. Baik mutan baik dan mutan jahat.

Serba nanggung.

Cuma aksi Peter "Quick Silver" Maximoff (Evan Peters) yang paling asik ruangnya disini. Kembali menjadi pencuri perhatian seperti yang dilakukannya di X-Men: Days of Future Past. 
Tokoh antagonis utama yang sedari awal menunjukan kalo sakti bukan main, juga berakhir begitu saja.

(Kenapa ga digituin aja sedari awal? Film jadi bisa langsung kelar di paruh pertama--pikir saya).


Bertambah kekecewaan saya mana kala Olivia Munn tidak dimanfaatkan dengan maksimal. Hanya pemanis saja. Aksinya juga hilang begitu saja dibenak ingatan seperti cara hilangnya Psylocke di penghujung film yang BEGITU SAJA, setelah lebih banyak petantang-petenteng tebar pesona. Rasanya Snyder dengan Batman v Superman-nya masih bisa dimaafkan karena bisa memaksimalkan hadirnya Gal Gadot sebagai Wonder Woman. Siapa yang tidak ingat adegan saat Wonder Women jatuh, terus menyeringai bangkit melawan Doomsday? Hayooo...
Ya, penantian panjang saya terhadap kontribusi Olivia Munn di film ini pupus sudah :'(

Meski demikian tidak semuanya buruk kok. Seperti aksi menawan Quick Silver dibeberapa scene, juga akting Michael Fassbender yang bener-bener apik. Perhatikan deh. Memang aktor watak jempolan.
Kalo boleh membanding-bandingkan, saya sih lebih kecantol oleh dua film X-Men kepemimpinan Charles "McAvoy" sebelumnya, First Class dan Days of Future Past.

Sedikit trivia:
Ada yang lucu.
Terdapat dialog para murid saat keluar dari bioskop,

"the 3rd movie in any series is the worst"

Lha iya kalo berdasarkan urutan rilisnya:
X-Men
X-Men 2
X-Men III: The Last Stand
X-Men: First Class
X-Men : Days of Future Past
X-Men: Apocalypse.

Tapi kalo dirunut berdasarkan time line-nya, kan jadi:
X-Men: First Class
X-Men : Days of Future Past
X-Men: Apocalypse
X-Men
X-Men 2
X-Men III: The Last Stand

Nah loh! Sama-sama third movie :))
Bukan saya yang bilang lho yaa :D

Jangan buru-buru keluar begitu film rampung, karena terdapat satu credit scene setelah credit title benar-benar habis.

Monday, May 23, 2016

[REVIEW] My Stupid Boss

Judul: My Stupid Boss
Sutradara: Upi
Produser: Frederica
Penulis: Upi
Pemain: Reza Rahardian, Bunga Citra Lestari, Alex Abbad
Distributor: Falcon Pictures


Geleng-geleng sambil nyengir adalah respon pertama saya begitu melihat trailer dari film ini. Apa lagi kalo bukan atas ke-"gesrek"an Reza Rahardian memainkan karakter Boss yang "nyentrik" atau.... Unik ini.

Berkisah tentang Diana seorang istri yang tinggal di Malaysia karena keperluan suaminya bekerja. Merasa bosan karena menganggur 3 bulan membuat Diana ingin bekerja lagi. Singkat cerita, ia diterima sebagai kepala administrasi (Kerani - bahasa Malaysia) di suatu kantor milik orang Indonesia yang menamakan dirinya, Bossman. Kelakuan Bossman yang ajaib ini membuat Diana kesal, makan hati, sampai perang batin tiap harinya. Apakah Diana menyerah begitu saja?

Film yang di sutradari oleh Upi (30 Hari Mencari Cinta, Realita Cinta dan Rock n Roll, Belenggu) ini kembali mempertemukan Reza Rahardian - BCL kembali setelah menjadi pasangan yang serasi di film box office Habibi dan Ainun. 

Saya yakin, tujuan utama orang - atau katakanlah kebanyakan orang - untuk menonton film ini adalah ingin tertawa melihat Reza memerankan Tokoh Bossman ini. Gendut, kepala botak, berkumis lele, semena-mena, dan ngeselin.


Ya, terbayar.

Hampir di keseluruhan film, kita akan dibuat tertawa dan geleng-geleng oleh tingkah "semena-mena" Bossman terhadap Diana dan 4 karyawan lainnya. Gak peduli seberapa bosennya kamu melihat Reza lagi Reza lagi, kamu akan berhasil dibuai (dibikin kesel) oleh karakter yang Reza mainkan.


Tapi bukan tanpa celah. Mempunyai cerita yang datar adalah hal pertama yang saya rasakan. Memang ga ada konflik yang berarti banget selain hanya ikut merasakan kedongkolan Kerani Diana terhadap Bossman. Beruntung hal itu tertutupi oleh akting Reza yang "rusuh" itu. Toh setelah liat materi promonya, tujuan kita nonton film ini mengerucut menjadi ingin dibuat ketawa saja. 

Pemilihan beberapa track melayu sebagai musik pengiring juga pas. Apalagi saat scene musik Cindai itu. 
Disamping kekocakan yang diberi, tidak disangka My Stupid Boss juga memberikan moment menyentuh tanpa harus cengeng. Cukup dengan tatapan mata BCL dan juga dua dialognya yang masih terngiang-ngiang di kepala saya, yaitu:
"Pak.. Bapak kenapaa?"; dan "Bohoong...".
Biasa aja ya kayaknya kalo cuma dibaca gini. Tapi kalo yang udah nonton pasti tau deh apa yang saya maksud.
Scene yang jadi favorite saya diantara scene-scene pengocok perut lainnya adalah scene "makan di restoran". 
Alhasil, My Stupid Boss adalah hiburan yang murni bertujuan untuk bersenang tertawa bareng.
Haha... Gesrek!