Thursday, October 15, 2015

[REVIEW] The Walk


Judul: The Walk
Sutradara: Robert Zemeckis
Produser: Tom Rothman, Steve Starkey, Robert Zemeckis, Jack Rapke
Pemain: Joseph Gordon-Levitt, Ben Kingsley, Charlotte Le Bon, James Badge Dale
Distributor: TriStar Pictures


Robert Zemeckis yang dari tangannya lahir Forest Gump, Cast Away, Back to the Future (1,2,3), The Polar Express, Christmas Carol, dan terakhir (yang saya nikamt banget nontonnya) Flight, kembali dengan karyanya yang sederhana namun epic, The Walk.

Joseph Gordon-Levitt yang didaulat sebagai aktor utama tampil menawan sebagai Phillipe Petit sekaligus narator untuk alur cerita bikin kita nyaman mengikuti tutur film dari awal sampai habis. Ben Kingsley sebagai Papa Rudy yang hangat serta Charlotte Le Bon yang tombo ngantuk bikin deretan cas makin lengkap.
Film ini memang mendukung sekali untuk format IMAX 3D. Karena bisa bikin kita merasa berada di atas tali pada ketinggian puncak gedung kembar saat adegan klimaksnya yang tegang banget itu (bagi yang phobia ketinggian, hampir bisa dipastikan jiper :D). Pun begitu fitur 3D-nya juga bukan sekedar polesan doang, popup-nya di beberapa gimmick berhasil mengerjai saya merem-merem menjauh takut kecolok tongkat, tali besi dsb.
Buat  yang belum nonton, saya sarankan tonton segera selagi masih tayang di IMAX 3D atau kakau tidak, yang ada format 3D-nya. Soalnya sayang banget kalo dilewatin gitu aja.

Jenaka, tegang, dan beau? Beautiful :) 









Tuesday, July 21, 2015

[SHORT REVIEW] Mencari Hilal

Judul: Mencari Hilal
Sutradara: Ismail Basbeth
Produser: Raam Punjabi, Putut Widjanarko, Salman Aristo
Pemain: Deddy Sutomo, Oka Antara, Erythrina Baskoro, Torro Margens
Perusahaan: MVP Pictures



Suka sekali sama film ini. Kaya dengan penampilannya yang sederhana. Penuh pelajaran namun tidak menggurui. Justru dengan caranya begini lebih mengena bagi saya.
Akting seluruh pemain dari pemeran utama sampai pemeran pendukung juga mateng banget. Beruntung saya sempet menontonnya lebaran kemarin. Kangen pengen nonton lagi. Apalagi disaat seperti ini sekarang. Pasti makin “tertampar” saya.


Wednesday, July 30, 2014

[REVIEW] Earth to Echo


Judul: Earth to Echo
Sutradara: Dave Green
Produser: Andrew Panay, Ryan Kavanaugh
Pemain: Two Halm, Brian "Astro" Bradley, Reese Hartwig, Ella Linea Wahlestedt
Distributor: Relativity Media

Sinopsis:
Kisah pertemanan 3 orang anak: Tuck, Alex, dan Munch, yang sudah lama tinggal bersama akhirnya masing-masing harus berpisah dikarenakan perumahan tempat mereka tinggal harus digusur guna pembangunan proyek jalan tol. Keanehan alam muncul membuat 3 sekawan ini berpetualang sekaligus mengisi saat-saat terakhir kebersamaan mereka.


Review:
Seiring berkembangnya kreatifitas, film bergaya founding footage sudah tidak melulu horror. Sebut saja Project X (party), Project Almanac (perjalanan mesin waktu), lalu Into The Storm (disaster tornado) dan Chronicle (superhero). Mengusung gaya yang sama, Earth to Echo memiliki tema berbeda, alien robot.

Tema pertemanan antar alien sudah sering kita jumpai di film seperti E.T, Lilo and Stich, atau Paul (hehehee). IMHO, film yang di sutradarai oleh Dave Green ini lebih cocok disebut  semi-founding footage dikarenakan pada bagian-bagian tertentu kita diantarkan seolah-olah sedang membuka YouTube hasil rekaman Tuck si pembuat video. Di luar dugaan, Earth to Echo cukup menarik dan fresh. Karena selain tema yang diangkat, tokoh di dalamnya adalah sekawanan bocah seumuran anak SD, bukan remaja atau dewasa pada umumnya. Kelemahan film founding footage biasanya terletak di setting yang monoton, yang kerap kali bikin penonton jenuh. Namun tidak dengan Earth to Echo. Menontonnya benar-benar nyaman, ditambah beberapa adegan bikin perut geli oleh kenaifan Tuck dkk yang membuatnya mengingat masa-masa kita saat seumuran mereka :D

Hanya saja, interaksi si 'robot alien' disini bisa dikatakan sedikit, sehingga penonton kurang mendapat ikatan batin kecuali pada karakter di dalamnya. Dengan bekal robot alien yang loveable nan super cute dan pertemanan 3 bocah yang solid ini harusnya bisa lebih mudah memikat emosi penonton jika si 'robot alien' diberi porsi durasi yang cukup. Meski demikian, Earth to Echo tetap berhasil jadi tontonan untuk keluarga yang hangat, manis, dan mengasyikan. We gonna miss you, Echo!