Monday, May 9, 2016

[REVIEW] Ada Apa Dengan Cinta 2


Judul: Ada Apa Dengan Cinta 2

Sutradara: Riri Riza

Produser: Mira Lesmana
Penulis: Mira Lesmana, Prima Rusdi
Pemain: Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Titi Kamal, Adinia Wirasti, Sissy Prescillia
Distributor: Miles Films, Legacy Pictures

Menurut saya, masih belom bisa melampaui kedahsyatan AADC pertama. Tapi bukan berarti jelek juga. Kalo di AADC2 ini, scene dan dialog yang paling ngena bagi saya yaitu saat Cinta dan Rangga duduk berdua untuk pertama kali ketemu. Jujur saja, kuatnya scene ini mengingatkan saya dengan kuatnya scene awal di film Inglorious Basterds, dimana Cinta sebagai Hans Landa dan Rangga di posisi Tn. LaPadite. Begitu verbal mengintimidasi. Kalo bisa di-rewind, mungkin scene ini yang saya ulang terus. 



Urusan dialog sarkas khas AADC, dapet.
Urusan gambar-gambar indah, dapet.

Cuma ya itu, kurang memorable aja. Siapa yang sampe sekarang ga nyantol sama dialog, "Basi! Madingnya udah mau terbit", atau "Barusan saya ngelempar pulpen karena ada yang berisik di ruangan ini, saya gak mau pulpen itu balik ke muka saya karena saya berisik sama kamu", atau "Kamu tuh kalo bingung lebih nyenengin ya" daaaaan masih banyak lagi. Apa saya berlebihan kalo tiap dialog, scene, puisi sampe OST di AADC 1 itu memorable semua?

Bahkan, kalo saya lewat Kwitang-Senen saja saya berasa napak tilas AADC1.
Meski demikian AADC 2 merupakan sajian tepat untuk nostalgia karena  khas-khas AADC 1 masih kental di sini. Beberapa terasa dipaksakan, namun selebihnya lagi bikin "ini yang ngangenin".

Monday, May 2, 2016

[REVIEW] Captain America: Civil War


Judul: Captain America: Civil War
Sutradara: Anthony Russo & Joe Russo
Produser: Kevin Feige
Penulis: Christopher Marcus (screenplay), Stephen McFeely (screenplay), Mark Millar (comic book), Joe Simon (characters), Jack Kirby (characters)
Pemain: Chris Evans, Robert Downey Jr, Scarlett Johansson, Sebastian Stan, Anthony Mackie, Don Cheadle, Jeremy Renner, Chadwick Boseman, Paul Bettany, Elizabeth Olsen, Paul Rudd, Emily VanCamp, Tom Holland, Daniel Brühl
Distributor: Walt Disney Studios Motion Picture

Sinopsis:
Pasca aksi the Avengers di beberapa negara sebelumnya tanpa disangka menimbulkan banyak korban sipil tak bersalah. Kejadian ini membuat pemerintah setempat beserta para pemimpin perserikatan bangsa-bangsa harus mengambil tindakan tegas kepada para Avengers yang selama ini dinilai "main hakim sendiri" dengan membuat Perjanjian Sokovia yang bertujuan agar para Avengers bekerja dibawah atau tunduk atas pengawasan pemerintah. Atas rasa bersalah dan memang dianggap perlu, Tony Stark dkk menyetujui untuk menanda tangani perjanjian tsb. Namun tidak dengan sebagian Avengers lain, Steve Roger aka Captain America dkk. Hal ini sudah mampu memicu perpecahan di tubuh Avengers. Ditambah Bucky The Winter Soldier menjadi buronan kelas kakap karena dituduh sebagai dalang aksi pengeboman yang massive. Bagaimana nasib Avengers kali ini?

Review:
Membuat film superhero bukan perkara mudah. Punya fan base yang kuat serta tentu selalu berekspektasi tinggi mau tidak mau membuat pada film maker harus "membanting tulang" demi memenuhinya. Apalagi jika dalam satu film mempunyai banyak karakter superhero didalamnya.
Mengusung nama Civil War, installment ketiga dari Captain America ini memberikan standard tertinggi pencapaian MCU (Marvel Cinematic Universe). Yang tidak hanya kental unsur "senang-senang"-nya (khas Marvel seperti biasanya), namun juga secara mengejutkan memiliki plot cerita yang apik! 
Sebagaimana yang kita tahu bagaimana dibuat kecewanya banyak fans (termasuk saya) oleh BvS bulan lalu. Kemegahan trailer tidak serta-merta diamini oleh film keseluruhan. Villain yang mudah dilupakan, konflik yang terkesan dipaksakan. Beruntung tertolong dengan epicnya gambar, final battle dan tentu scene stealer apalagi kalo bukan oleh Wonder Woman. Masih bisa dimaafkan kalo mengingat BvS merupakan "gerbang" menuju JLA nanti, yang rasa-rasanya bakalan dahsyat.
Kembali ke Civil War, rasanya kredit patut diberikan selain kepada sang sutradara Russo bersaudara (yang sebelumnya juga berhasil menahkodai Captain America: Winter Soldier) juga kepada sederetan penulis naskah. Dengan begitu banyaknya karakter superhero, tidak lantas membuat tergopoh-gopoh dalam membangun plot cerita. Tidak begitu berat atau kelam, namun nyaman dinikmati. Semua bukan tanpa alasan. Tiap katakter mempunyai motifnya masing-masing.
  • Setia kawan: Capt-Bucky-Falcon // Tony-Rodhey-Vision
  • Balas budi: Clint-Wanda
  • Balas dendam: Black Panther-Winter Soldier
Mungkin hanya diperlukan sedikit ingatan dari refrensi film-film MCU sebelumnya saja agar lebih masuk ke dalam cerita. Kalo lupa pun, masih bisa mengikuti karena akan diterangkan disini. 
Aksi laga dahsyat yang diberikan diawal film merupakan "welcome drink" menuju aksi-aksi hebat selanjutnya. IMHO, kesan yang didapat dari trailernya biasa-biasa saja, sampai muncul Spider-Man yang menjadi spot dan buah bibir dimana-mana. Rasanya si keponakan Bibi May ini yang bakal menjadi pencuri perhatian. Mengalahkan Black Panther atau bahkan si tokoh utama film. Memang ada benarnya juga. Tapi apa yang kemudian diberikan di film?
Gak sampai disitu.
Kemunculan superhero-superhero baru maupun lama berhasil mencuri perhatian dengan kontribusinya (dan khasnya) masing-masing.
Pemilihan 2 karakter baru juga pas. Saya tidak mengikuti Black Panther, namun rasanya Chawick Boseman cocok memerankan Prince T'Challa aka Black Panther. Disisi lain, Tom Holland berhasil menjawab keraguan setelah pergulatan alot atas siapa tokoh yang pantas memerankan Peter Parker baru ini. Karenanya, banyak yang menanti spin-off dari dua karakter baru MCU ini. 
Selain dipenuhi oleh banyak aksi seru, bukan Marvel namanya kalo tidak bisa menyelipkan unsur humor di dalamnya. Gak heran setelah 2x menontonnya di bioskop, atmosfir yang didapat pun sama. Keriuhan penonton saat adegan di bandara ketika kedua kubu bertemu, serta keheningan masal akibat twist dipenghujung film. Twist yang menohok. Memainkan emosi penonton yang tadinya abu-abu menjadi jelas harus hitam atau putih, atau harus tetap abu-abu?
Harus saya akui, Captain America: Civil War adalah installment terbaik dari Marvel Cinematic Universe hingga saat ini. Bahkan dibandingkan The Avengers itu sendiri. Mau ga mau ini akan jadi PR bagi film-film MCU selanjutnya, karena harus meneruskan tongkat estafet dengan standar yang sudah sedemikian tingginya.
Oh iya, seperti biasa. Jangan lewatkan 2 credit scene penting. Satu di tengah, satu benar-benar diujung roll film setelah credit title benar-benar habis. Kudos!



Wednesday, April 6, 2016

[REVIEW] 10 Cloverfield Lane

Judul: 10 Cloverfield Lane
Sutradara: Dan Trachtenberg
Produser: JJ Abrams, Lindsey Weber
Penulis: John Campbell, Matthew Stuecken
Pemain: John Goodman, Mary Elizabeth Winstead, John Gallagher Jr.
Produksi: Bad Robot Productions
Distributor: Paramount Pictures


Sinopsis:
Seorang gadis bernama Michelle (Winstead) yang mengalami kecelakaan mendapati dirinya terbangun di dalam sebuah bunker milik Howard (Goodman) seorang berperawakan tambun nan misterius yang menolongnya dari kecelakaan tersebut. Atas informasi Howard, ia tidak hanya diselamatkan dari kecelakaannya saja, namun atas apa yang terjadi di atas sana. Michelle yang ragu akan gelagat dan motif Howard berusaha melarikan diri, tanpa ia ketahui bahaya apa yang mengintai dari atas sana.

Review:
Di tahun 2008 terdapat film berjudul Cloverfield mengenai sekumpulan anak muda yang lari dari serangan makhluk misterius raksasa yang memporak-porandakan seisi kota New York. Film bergaya founding footage yang di sutradarai oleh Matt Reeves (Dawn of the Planet of the apes) dan diproduseri juga oleh JJ Abrams (Super 8, Star Trek, Star Wars: The Force Awakens) ini sukses memacu adrenalin, seiring dengan rasa penasaran penonton akan wujud sang monster serta bagaimana kedatangannya.
Teknik founding footage—atau istilah gampangnya “hasil rekaman amatir" — memang efektif dan memiliki keseruan tersendiri, karena selain penonton berasa ikut di dalamnya juga kejadian di film seolah real. Contoh film-film dengan gaya ini antara lain: Blair Witch Project, Paranormal Activity, REC, Keramat, Chronicle, The Taking of Deborah Logan, As Above So Below, Project Almanac dan masih banyak lagi. Sedikit trivia, kedatangan monster di Cloverfield bisa dilihat di detik-detik akhir film dan memang perlu kejelian :D

Lanjut ke 10 Cloverfield Lane (selanjutnya disingkat 10CL), Abrams rupanya masih ingin mendalami kisah Cloverfield ini. Meski belum bisa dibilang bahwa 10CL adalah prekuel ataupun sekuel dari Cloverfield, namun 10CL masih ada hubungannya.
Sci-Fi dan invasi makhluk asing.

Meski kali ini tidak bergaya founding footage, tidak lantas 10CL kekurangan tensinya. Memang tidak sehingar-bingar dan se-dar der dor War of the World atau katakanlah Independence Day. Namun disinilah hebatnya. Kredit patut diberikan bagi penulis naskah, 10 CL didukung oleh naskah yang solid. Bagi yang mengikuti karya Abrams sebelumnya “Super 8” pasti sudah hafal gimana temponya. Perlahan tapi pasti, kemudian tensi meningkat berbarengan dengan kesimpulan yang mengejutkan.

Untuk deretan pemain takarannya pun pas. Kudos untuk Goodman (si Flintstone dan pengisi suara Sulley si monster besar berbulu biru di Desney Monster Inc & Monster University), perannya berhasil membuat tensi naik turun dan membuat kita bertanya-tanya akan motifnya. Tidak jarang penonton dibikin menahan napas oleh karakternya. Lalu untuk Winstead (The Thing, Scott Pilgril vs The World, Final Destination 3) memang tidak perlu diragukan lagi kekinyisan, eh...... maksudnya kematangan aktingnya. Berhasil membuat penonton juga ikut merasakan ketegangan demi ketegangan yang dialaminya. Gallagher Jr. yang memerankan Emmet juga pas porsinya untuk memberi penonton ‘nafas sejenak’ dengan tingkah lucunya.

Sayangnya kemunculan poster kedua jadi mengurangi twist apa sebenarnya yang terjadi di luar sana. Padahal lewat trailernya sudah berhasil memancing kekepoan. Saya pun bertanya-tanya, “alien, moster, wabah, apa zombie nih?”. Belom juga nonton, eeeh... udah”disuapin” aja sama poster kedua. Poster versi pertama dan poster versi IMAX-nya sudah cukup pas padahal. 

Secara pribadi, saya sangat menikmati film Sci-Fi invasi “gelap” seperti Super 8 (JJ Abrams), Monster (Gareth Edward), Dark Skies (Scott Stewart), serta Signs (M. Night Shyamalan). Hadirnya 10CL membuat saya seolah encore, “We want more! We want more!”.
Bukan karena kurang puas, melainkan karena nagih.